Ayam Asap Nuknan: Dari Asap yang Bikin Komplain, ke Bestseller yang Dicari Keluarga
Berawal dari gerobak kecil milik mahasiswi tata boga, Ayam Asap Nuknan tumbuh melalui asap yang mengundang komplain, percobaan yang tak terhitung jumlahnya, dan keberanian untuk belajar sambil berjalan. Sebuah cerita tentang keberuntungan, kerja keras, dan orang-orang yang memulai sebelum benar-benar merasa siap.
CERITA USAHA
Joy Frysdeskia
6/18/20263 min baca
Namanya Kepak No — dan kalau kamu penasaran artinya, jawabannya ada di Upin Ipin.
Ceritanya dimulai dari sebuah adegan kartun: ayam bakar sayap yang disate dan digantung di etalase. Ternyata itu yang jadi inspirasi awal Kak Nurul membuka usahanya. Sayap ayam — dalam bahasa Jawa, kepak — jadi nama yang melekat. Dan nama itu tetap bertahan, bahkan setelah menunya berevolusi jauh dari ayam bakar biasa.
Mulai dari Gerobak, di Semester Akhir Kuliah
Kak Nurul bukan pengusaha dari keluarga pengusaha. Dia mahasiswi jurusan tataboga yang di semester akhir kuliah, butuh uang jajan tambahan, dan memutuskan untuk jualan sendiri.
Mulainya dari gerobakan. Menu pertamanya? Ayam Bakar Madu — yang waktu itu jadi favorit kalangan mahasiswa. Laku, disukai, dan cukup untuk menghidupi hari-harinya di masa kuliah.
Tapi Kak Nurul tidak berhenti di situ.
Asap, Komplain Tetangga, dan Sebuah Resep yang Akhirnya Ketemu
Di tengah kesuksesan ayam bakar madunya, Kak Nurul justru mencari sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang belum banyak ada. Dan dia menemukan: Ayam Asap.
Yang tidak dia bayangkan adalah betapa panjang jalannya untuk menemukannya.
Proses membuat ayam asap itu mengepul terus — asapnya kemana-mana, tetangga komplain, berulang kali. Awalnya usaha ini dijalankan bersama seorang rekan. Tapi perjalanan tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan, dan akhirnya Kak Nurul meneruskan semuanya sendiri — lalu bersama suaminya, Kak Edo.
Bersama Kak Edo, mereka terus mengulik sampai akhirnya cara yang tepat itu ditemukan.
Sekarang? Ayam asap itu jadi bestseller dari rumah makan ini. Menu yang lahir dari kegagalan berulang dan asap yang mengusik tetangga — kini justru yang paling dicari.
Bukan Pengusaha, Tapi Memberanikan Diri Hire Karyawan
Yang bikin aku kagum dari Kak Nurul dan Kak Edo bukan hanya produknya — tapi keberanian mereka menjalankan sesuatu yang belum pernah mereka jalani sebelumnya.
Ini adalah usaha pertama mereka. Kak Edo bahkan baru benar-benar belajar soal bisnis dari rumah makan ini — bukan sebelumnya. Dan di awal, mereka langsung memberanikan diri hire karyawan, tanpa pengalaman mengelola tim sebelumnya.
Semua dijalankan sembari belajar. Trial and error setiap hari. Bukan teori dulu baru praktek — tapi praktek sambil terus menemukan jalannya.
Sudah tiga tahun berjalan. Tapi kata Kak Edo dan Kak Nurul sendiri — bisnis yang beneran baru terasa di tahun 2026 ini. Tiga tahun pertama adalah masa belajar yang tidak bisa dipercepat.
Dan yang tadinya dibuat untuk mahasiswa? Kini Ayam Asap Nuknan sudah jadi pilihan makan keluarga.
“Malas” yang Jadi Peluang — dan Kejujuran yang Tidak Banyak Orang Berani Bilang
Nah, ini bagian yang paling aku ingat dari obrolan hari itu. Kak Edo, dengan santainya sambil tersenyum, bilang:
“Jujur saya itu orangnya males, males sekali. Mungkin berkat malas ini saya bisa menciptakan peluang usaha — saya berpikiran daripada saya dapat 100% dari kerja keras sendiri, mending dapet 20% dari hasil kerja orang lain.”
Lalu dia menambahkan, melanjutkan percakapan :
“Jangan ditiru malasnya ya, karena ga semua orang malas punya hoki yang sama..”
Dan satu hal lagi yang dia bilang — yang menurutku justru paling jujur:
“Tidak semua orang itu bisnis. Professional pun juga bagus. Sama-sama mendatangkan uang. Jujur saja saya masih kepikiran dengan bidang profesional saya.”
Kalimat itu menarik karena jarang diucapkan orang yang sedang menjalankan usahanya sendiri. Biasanya yang keluar adalah cerita sukses, semangat yang membara, keyakinan penuh. Tapi Kak Edo memilih jujur — bahwa jalan ini bukan satu-satunya jalan, dan bahwa dia sendiri masih bertanya-tanya.
Aku mendengarnya, dan aku merasa kami sedang memikirkan hal yang sama.
Bukan Tentang Resep Ayam Asap
Aku datang dengan pikiran bahwa cerita ini akan berakhir pada resep ayam asap yang berhasil ditemukan.
Ternyata bukan.
Bagiku, cerita Ayam Asap Nuknan adalah tentang keberanian memulai sesuatu sebelum merasa siap.
Kak Nurul dan Kak Edo bukan pengusaha. Mereka tidak punya pengalaman menjalankan rumah makan. Bahkan sebagian besar keputusan mereka lahir dari percobaan, kesalahan, dan keberanian untuk mencoba lagi keesokan harinya.
Sering kali kita mengira orang yang berhasil pasti sudah tahu jalannya sejak awal. Padahal setelah mendengar cerita mereka, aku justru melihat sebaliknya. Banyak hal yang terlihat seperti hoki dari luar ternyata dibangun dari begitu banyak percobaan yang tidak terlihat.
Mungkin keberuntungan memang ada. Tapi keberuntungan tampaknya lebih mudah menemukan orang yang tetap datang dan belajar setiap hari, bahkan saat belum tahu apa yang sedang mereka lakukan.
Visited: 11 Juni 2026 | Rating pribadi: ayam asapnya enak, tapi filosofi Kak Edo yang paling bikin kenyang