Ben Waras: Wedangan Pojok yang Diam-Diam Sudah Punya 3 Cabang
Dari resep nenek ke tiga cabang,Ben Waras membuktikan bahwa hal-hal sederhana-rempah,keluarga,dan ketekunan- masih bisa bertahan ditengah zaman yang serba instan.
CERITA USAHA
Joy Frysdeskia
6/14/20263 min read


Lahir di Masa Pandemi, Langsung Boom
Waktu aku ngobrol sama Bu Tari — pemilik Ben Waras — aku tanya: resepnya dari mana? Kok bisa kepikiran jualan wedangan rempah?
Ternyata perjalanannya dimulai 7 tahun lalu, tepat di masa-masa paling genting: saat virus corona sedang mengguncang segalanya. Di tengah kepanikan orang mencari cara menjaga imunitas, Ben Waras hadir dengan wedangan herbal turun-temurun.
“Langsung boom,” kata Bu Tari.
Dan masuk akal. Orang-orang saat itu sedang haus akan sesuatu yang alami, yang hangat, yang terasa menyehatkan dari dalam. Ben Waras datang di waktu yang tepat — bukan karena tren, tapi karena resepnya memang sudah ada jauh sebelum pandemi itu.
Visited: 3 Juni 2026 | Rating pribadi: tempat yang bikin kamu ngerasa dirawat dari dalam
Lebih dari Sekadar Minuman
Sebagai orang yang tertarik dengan dunia herbal, aku selalu percaya bahwa tanaman- tanaman ini punya sesuatu yang obat modern kadang nggak bisa berikan — kehangatan. Bukan hanya suhu, tapi sensasi yang masuk pelan-pelan, yang bikin tubuh ngerasa diperhatikan.
Ben Waras mengemasnya dengan cara yang sederhana dan bersih. Tanpa lebay, tanpa klaim berlebihan. Cukup dengan etalase akar-akaran, resep dari nenek, dan tangan yang mau repot membuat semuanya dari awal setiap hari.
Dan itu sudah lebih dari cukup.


Pertama Kali Lihat: Pojok Kecil yang Hangat
Aku pertama kali melihat Wedang Jahe Rempah Ben Waras waktu tempatnya masih lebih kecil, di pojokan, tidak seluas sekarang. Tapi ada sesuatu yang langsung menarik perhatian: etalase berisi akar-akar tanaman yang dipajang rapi.
Bukan dekorasi biasa. Itu langsung kasih kesan bahwa apa yang kamu minum di sini dibuat dengan bahan yang beneran — bukan serbuk sachet, bukan sirup, bukan instan. Ada sesuatu yang hidup dari tampilan itu. Dan buat aku yang memang suka dunia herbal, itu seperti magnet.
Aku duduk, pesan kunyit asam. Segar banget untuk sore menjelang malam..
Resep dari Nenek, Dibuat Sendiri, Sampai Sekarang
“Resepnya ini dari mbah, turun temurun. Semuanya buat sendiri.”
Kalimat Bu Tari itu simpel, tapi beratnya luar biasa. Di era di mana banyak produk minuman “herbal” tinggal buka sachet dan seduh, Ben Waras masih memilih cara yang lebih susah — tapi lebih jujur.
Semua dibuat sendiri. Dari bahan asli. Dari resep yang diwariskan.
Dan motivasinya pun nggak jauh dari pengalaman pribadi. Waktu aku tanya kenapa milih minuman sehat, Bu Tari jawab dengan polos:
“Soalnya saya sendiri minum itu dan setelah itu badannya jadi lebih enak.”
Sesimpel itu. Bukan karena riset pasar, bukan karena tren wellness. Tapi karena dia sendiri merasakannya — dan ingin orang lain merasakan hal yang sama.
Soal Rasa: Herbal yang Ramah di Lidah
Aku tau betul, minuman herbal itu kadang... nggak mudah. Rasanya bisa pahit, langu, atau aneh — terutama buat yang belum terbiasa. Tapi di Ben Waras, rasanya berbeda. Enak dan mudah diterima, bahkan buat lidah yang belum akrab dengan rempah sekalipun.
Itu bukan hal mudah untuk dicapai. Meracik herbal yang khasiatnya tetap terjaga tapi rasanya tetap nyaman di mulut — itu butuh keahlian yang diasah lama.
Rekomendasi Bu Tari sendiri? Jahe Rempah — buat yang lagi capek, meriang, atau masuk angin. Menu yang paling personal dari ownernya, dan kemungkinan besar yang paling sering dia minum sendiri.
Dari Pojok Kecil ke 3 Cabang
Dan ternyata, Ben Waras bukan hanya satu warung pojok itu saja.
Setelah ngobrol lebih lanjut, aku baru tau: sudah ada 3 cabang, dan semuanya dikelola oleh keluarga. Bisnis keluarga yang tumbuh dari resep nenek, dijalankan bersama-sama, menjangkau lebih banyak orang.
Ada sesuatu yang terasa utuh dari cerita ini. Dari nenek ke Bu Tari, dari Bu Tari ke keluarga, dari satu pojok kecil ke tiga tempat yang berbeda. Rantai yang nggak putus.
Awalnya aku mau beli jus.
Tapi entah kenapa, begitu sampai di depannya — aku berbalik arah. Wedangan aja deh. Dan keputusan iseng itu ternyata salah satu yang paling aku syukuri sore itu.

