Nami Coffee and Plants: Tanamannya Ditanam Dulu, Baru Kedainya Dibuka
Sebelum menjadi kedai, Nami lebih dulu menjadi halaman yang dipenuhi tanaman. Sebuah cerita tentang hobi, pertumbuhan, dan hal-hal baik yang tumbuh perlahan ketika dirawat dengan sepenuh hati.
CERITA USAHA
Joy Frysdeskia
6/22/20264 min baca
Visited: 22 Juni 2026 | Rating pribadi: tempat yang tumbuh pelan-pelan, dan justru itu yang bikin betah
Nami bukan tempat yang mudah ditemukan.
Lokasinya jauh dari hiruk pikuk perkotaan Semarang, berada di dalam perkampungan, di tempat yang tidak banyak orang lewati tanpa tujuan khusus. Tapi aku sering ke sini. Berkali- kali. Karena begitu kamu tau tempatnya, kamu akan selalu punya alasan untuk kembali.
Ketika Tanaman Lebih Dulu Ada dari Kedainya
Nami Coffee and Plants bukan kafe yang dibangun lalu ditambahkan tanaman sebagai dekorasi. Justru sebaliknya.
Kak Joanna, pemilik Nami, menanam tanaman di halaman belakang rumahnya satu sampai dua tahun sebelum kedai ini resmi dibuka. Tanamannya tumbuh dulu. Halamannya dibentuk dulu. Baru setelah itu kedainya hadir, sebagai sesuatu yang tumbuh secara alami dari ruang yang memang sudah hidup.
Dan hasilnya terasa. Halaman Nami tidak terasa seperti set foto — tapi seperti tempat yang memang sudah lama ditinggali, dirawat, dan disayangi. Adem, homie, hanya ada beberapa kursi. Tidak banyak, tidak ramai — dan justru itu yang bikin betah.
Kak Joanna juga menata seluruh halaman sendiri, menerapkan ilmu yang dia pelajari dari latar belakangnya di bidang arsitektur. Setiap tanaman ada di tempatnya bukan karena kebetulan.




Slow Living Café di Tengah Perkampungan
Konsep Nami adalah apa yang aku sebut sebagai slow living café — tempat yang tidak terburu-buru, tidak memaksamu keluar cepat, dan tidak berlomba-lomba jadi yang paling ramai.
Menu masakannya pun berganti setiap hari. Bukan karena tidak konsisten — tapi justru karena Kak Joanna punya dua alasan yang sangat disengaja: supaya pelanggan tidak bosan dengan menu yang sama, dan — yang ini bikin aku respek — untuk mengurangi food waste. Menu dibuat sesuai bahan yang ada dan terpakai habis, bukan disiapkan berlebihan lalu terbuang.
Bahkan bahan-bahannya sebagian berasal dari tanaman yang ditanam langsung di halaman kedai ini.
Dan kalau kamu punya menu favorit yang pernah ada di Nami? Bisa request di DM sehari sebelumnya. Itu bukan fitur yang dibuat-buat — itu cara Kak Joanna menjaga hubungan yang personal dengan setiap pelanggannya.
Hari aku datang, menunya adalah Ayam Goreng Laos dan Bakmoy Ayam Tahu. Keduanya masakan rumahan yang hangat — dan terasa seperti itu.
“Nami” — Satu Kata, Banyak Makna
Waktu aku tanya soal namanya, Kak Joanna tersenyum lalu menjelaskan:
“Nama Nami ini artinya ‘Kami’ atau ‘Kita’ — ini aku ambil dari bahasa Batak, karena suami saya orang Batak. Dan di bahasa lain seperti Jepang, artinya juga bagus: indah. Dan fun fact-nya, Nami kalau dibalik jadi Iman — jadi ini punya arti yang positif.”
Satu nama yang membawa bahasa Batak, nuansa Jepang, dan ketika dibalik — jadi sebuah kata yang sarat makna dalam bahasa Indonesia. Tidak banyak nama usaha yang bisa menanggung sebanyak itu dengan ringan.
Lahir dari Hobi, Bertahan karena Hobi
Kak Joanna tidak punya latar belakang coffee shop sama sekali sebelum membuka Nami. Tidak ada pengalaman mengelola kafe, tidak ada blueprint yang sudah jadi. Semua dijalani sambil meraba-meraba — apalagi karena lokasinya di dalam perkampungan, yang berarti Nami harus memperkenalkan diri dari nol kepada pasar yang belum terbentuk.
Awalnya Nami juga mengusung teh sebagai salah satu andalan. Tapi melihat pasar, pelanggan lebih menyukai kopi — dan Kak Joanna menyesuaikan.
Yang membuat Nami bertahan sejak Februari 2024 bukan strategi bisnis yang rumit. Tapi karena ini dimulai dari hobi — memasak, menanam, menata ruang. Dan hobi, kata Kak Joanna, membuat kamu lebih kuat ketika masa-masa sulit datang:
“Memulai dari hobi, karena bisa memulainya dari yang kita suka. Kalau up and down pasti ada di bisnis ini — dan yang aku lakukan ya tetep dijalanin aja.”
Menu yang disajikan pun bukan menu yang diciptakan untuk tren — tapi masakan favorit rumahan Kak Joanna sendiri, yang diturunkan dari ibunya. Dan satu rekomendasi yang dia titipkan: Nasi Liwet Teri Kecombrang — terinya asli dari Medan, karena keluarganya memang berasal dari sana.


Bukan Cerita Tentang Kopi dan Tanaman
Awalnya aku pikir Nami adalah cerita tentang kopi dan tanaman. Ternyata bukan.
Bagiku, Nami adalah cerita tentang pertumbuhan.
Aku jarang menemukan tempat yang bahkan tanamannya ditanam lebih dulu sebelum kedainya dibuka. Di sini, banyak hal tidak terjadi secara instan. Tanaman tumbuh perlahan. Menu berubah mengikuti bahan yang tersedia. Bahkan kedainya sendiri lahir dari hobi yang dirawat sedikit demi sedikit.
Di tengah dunia yang sering mengajarkan kita untuk bergerak lebih cepat, Nami justru mengingatkanku bahwa ada hal-hal yang membutuhkan waktu. Tidak semua harus selesai hari ini. Tidak semua harus langsung berhasil.
Mungkin itulah yang membuat tempat ini terasa nyaman. Ia tidak dibangun untuk terlihat sempurna. Ia dibangun untuk bertumbuh.
Dan mungkin, seperti kata Kak Joanna, memulai dari hal yang kita sukai memang membuat kita lebih kuat bertahan ketika masa-masa sulit datang.