Osing Coffee: Aku Pikir Ini Cerita Tentang Kopi. Ternyata Bukan.
Sebuah kedai kecil di halaman rumah yang membuat kami berhenti tanpa rencana. Dibalik kopi,Opak singkong,dan "masakan ibu", aku menemukan sesutu yang lebih langka : perasaan pulang.
CERITA USAHA
Joy frysdeskia
6/16/20264 min read
Halaman Rumah yang Jadi Kedai
Osing Coffee duduk di halaman rumah. Konsepnya javanese slow bar — dan tempatnya benar-benar cantik. Estetik, tapi tidak berlebihan. Tidak ada neon sign yang terlalu ramai atau dekorasi yang dipaksakan supaya kelihatan keren. Hanya halaman yang tertata dengan rasa, kursi yang mengundang duduk lama, dan udara yang terasa lebih pelan dari biasanya.
Dan aku langsung betah. Bukan perasaan seperti sedang duduk di cafe — tapi lebih seperti sedang main ke rumah teman yang kebetulan suka bikin kopi. Nggak ada jarak antara penjual dan pembeli. Yang ada cuma obrolan, kursi yang nyaman, dan waktu yang terasa nggak perlu buru-buru.
Satu hal yang perlu kamu tau sebelum ke sini: tempat duduknya terbatas. Kak Firman memang tidak ingin memperbesar kapasitas sembarangan — karena yang dijaga bukan hanya kopinya, tapi juga suasananya. Jadi sebelum datang, disarankan untuk menghubungi WhatsApp kedai dulu, supaya kamu tidak kecewa saat sampai dan tidak bisa menikmati tempat ini seperti seharusnya.
Dan ada momen yang aku suka banget dari dinamika ini: saat pelanggan datang dan bertanya, “Ibu masak apa hari ini?” — itu bukan sekadar pertanyaan soal menu. Itu percakapan. Itu koneksi. Antara orang asing yang datang, dan rumah yang membuka pintunya.
Aku tidak berencana ke sana.
Jalan Sumowono bukan jalan yang biasa aku lewati. Tapi hari itu aku lewat — dan di sisi jalan, ada kedai kecil yang terlihat hangat. Belum ada orang yang berkunjung. Tempat itu sepi, tapi justru karena itu aku tertarik.
Aku langsung mendatanginya.


Kok Namanya Osing?
Pertanyaan pertama yang langsung aku lempar ke Kak Firman, si pemilik.
Ternyata: Osing berasal dari Opak Singkong.
Sebelum ada kedai kopi ini, Kak Firman menjual dan membuat opak singkong — buatan ibunya. Dari situ lahir nama brand Osing. Dan waktu mulai membuka kedai kopi, nama itu sudah ada, sudah melekat. Tidak perlu dicari lagi.
Dari opak singkong ke kedai kopi. Perjalanan yang tidak ada yang bisa menebaknya — tapi kalau kamu dengar ceritanya, semuanya masuk akal.
Belajar dari Cafe Orang, Lalu Buka di Depan Rumah Sendiri
Kak Firman tidak punya latar belakang barista yang formal. Dia mulai belajar kopi dari tempat kerja lamanya — sebuah cafe kopi, tempat dia bekerja dan menyerap ilmu sedikit demi sedikit. Untuk membuat menu lainnya dikerjakan dengan hasil pembelajaran yang panjang sembari membuka kedai kopi.
Lalu suatu hari, muncul pertanyaan sederhana di kepalanya: keluarga punya ladang kopi. Kenapa tidak dimanfaatkan dengan baik?
Dan dari pertanyaan itu, Osing lahir. Di depan rumah. Tidak terasa sudah berjalan Empat tahun.
Biji kopi dipetik dari perkebunan sendiri, dijemur di rumah, di-roasting di rumah, bersama satu rekan yang juga menjalankan Osing bersamanya. Bukan hanya diseduh dan dinikmati di tempat — biji kopinya juga dijual. Dari kebun, ke tangan, ke cangkir. Seluruh prosesnya ada di satu rumah yang sama.
“Masakan Ibu” — Menu yang Tidak Ada Daftarnya
Ini yang paling bikin aku terpukau.
Selain kopi, Osing punya hidangan yang namanya cukup untuk bikin siapapun penasaran:
“Masakan Ibu.”
Bukan nama yang diambil dari tren. Bukan konsep yang dibuat-buat. Karena memang benar- benar masakan ibunya Kak Firman — yang dimasak setiap hari untuk dihidangkan ke pelanggan. Dan Kak Firman sendiri tidak selalu tau apa yang akan dimasak ibunya hari itu.
“Ya, masakan ibu ini ya — karena ibu memang membuatkan makanan untuk saya, kadang saya juga ga tau ibu masak apa hari ini..” ujarnya lepas tertawa bersama.
Jadi kalau kamu datang hari ini dan besok, jangan harap menunya sama. Itu bukan ketidakkonsistenan. Itu justru jantung dari konsep Osing — bahwa yang kamu dapat di sini adalah sesuatu yang hidup, yang berubah, yang nyata.
Visited: 10 Juni 2026 | Rating pribadi: bukan kedai. Ini rumah yang kebetulan ada kopinya
Setiap Hari Adalah Hal yang Berkesan
Aku tanya ke Kak Firman: apa momen paling berkesan selama menjalankan Osing? Dia mikir sebentar, lalu bilang:
“Setiap hari adalah hal yang berkesan. Aku tidak ada hal yang spesifik — tapi bertemu orang setiap hari menjadi hal yang menyenangkan buatku.”
Jawaban yang sederhana. Tapi justru itu yang bikin aku merasakan hal yang sama.
Di dunia yang sering mengukur pencapaian dari momen-momen besar — viral, ramai, trending — Kak Firman menemukan maknanya di hal yang paling kecil: orang yang datang, duduk, dan ngobrol. Setiap hari.
Urip Lan Nguripi
Dan dari perjalanan empat tahun itu, Kak Firman bilang dia akhirnya punya filosofinya sendiri:
“Urip lan nguripi.”
Hidup, dan menghidupi.
Bukan hanya soal mencari nafkah. Tapi tentang menciptakan ruang yang membuat orang lain merasa hidup, nyaman, dan ingin kembali.
Bukan Tentang Kopi
Aku pikir Osing adalah cerita tentang kopi. Ternyata bukan.
Bagiku, Osing adalah cerita tentang rumah. Tentang bagaimana hal-hal sederhana — masakan ibu, halaman rumah, dan obrolan tanpa terburu-buru — masih mampu membuat orang asing merasa seperti teman lama.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin sibuk, perasaan itu jauh lebih langka daripada secangkir kopi yang enak.

