Potti Potato: Dimulai karena Tidak Punya Uang, Bertahan 10 Tahun karena Kentang

Beberapa usaha lahir dari mimpi besar. Sebagian lainnya lahir dari kebutuhan untuk bertahan hidup. Potti Potato adalah cerita tentang kegagalan, ketahanan, dan satu alasan untuk terus berjalan.

CERITA USAHA

Joy Frysdeskia

6/22/20263 min baca

Bukan Cerita Tentang Kentang

Awalnya aku pikir Potti Potato adalah cerita tentang kentang. Ternyata bukan.
Bagiku, ini adalah cerita tentang ketahanan.

Aku suka bagaimana Kak Ahid bercerita tentang kegagalan tanpa berusaha menyembunyikannya. Tidak ada kisah sukses yang dibuat terdengar sempurna. Tidak ada cerita bahwa semuanya berjalan mulus sejak awal.

Justru sebaliknya. Sudah banyak usaha yang dicoba. Sudah banyak hal yang tidak berjalan sesuai harapan. Dan mungkin karena itulah, ia tidak lagi terlalu takut pada kegagalan.

Mendengar ceritanya membuatku berpikir bahwa keberanian bukan berarti tidak pernah gagal. Kadang keberanian adalah tetap mencoba setelah berkali-kali gagal.

Dan mungkin, setelah cukup lama berjalan, yang kita kejar bukan lagi menghindari kegagalan. Tetapi menemukan satu hal yang layak diperjuangkan sampai berhasil.

Ada makanan yang satu kali nyoba langsung bikin antre panjang. Potti Potato salah satunya.

Aku sudah tau tempat ini dari cerita orang — antrenya sempat luar biasa panjang, dan kalangan anak-anak Tembalang sudah menjadikannya makanan favorit. Dan setelah akhirnya aku ke sana dan ngobrol langsung dengan Kak Ahid, pemiliknya — aku tau kenapa tempatnya bisa bertahan sampai 10 tahun.

Kentang Asli dari Dieng, Kuah Kaldu yang Dibuat Berjam-jam

Yang bikin Potti Potato beda dari olahan kentang lainnya adalah komitmennya pada bahan yang nyata: kentang asli dari Dieng, bukan kentang olahan frozen seperti yang banyak beredar di pasaran.

Itu bukan kebetulan. Kak Ahid memang suka kentang, dan dia justru frustrasi karena susah menemukan olahan kentang asli di luar sana. Kebanyakan sudah menjadi produk beku yang kehilangan tekstur dan rasanya. Dari situ muncul keinginan untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda.

Dan kuahnya? Dibuat sendiri, berjam-jam, sampai kaldu-nya benar-benar keluar. Bukan kuah instan, bukan campuran yang dipercepat. Prosesnya panjang — dan rasanya menunjukkan itu.

“Alasan Nomor Satu: Karena Tidak Punya Uang”

Aku tanya ke Kak Ahid: kenapa kepikiran bikin Potti Potato? Jawabannya langsung, tanpa basa-basi:

“Alasan nomor satu, karena tidak punya uang.”

Lalu dia tertawa. Dan menambahkan:

“Pasti ya kalau itu.”

Aku suka kejujuran ini. Tidak ada narasi muluk tentang passion yang tiba-tiba datang atau visi besar yang sudah direncanakan bertahun-tahun. Cuma satu kenyataan yang paling sederhana — butuh uang, dan ini jalan yang ada.

Dan dari titik yang sesederhana itu, Potti Potato sudah berjalan 10 tahun.

Nama yang Lahir dari Bunyi, Bukan dari Konsep

Soal nama, aku juga penasaran. Potti Potato dari mana?

Kata Kak Ahid, itu seperti mixing kata saja — dibolak-balik dari kata potato, sampai terdengar enak di telinga. Tidak ada filosofi rumit di baliknya. Kadang nama yang paling melekat memang lahir dari sesuatu yang sederhana dan terasa benar waktu diucapkan.

Sudah Terbiasa Gagal — dan Itu yang Membuatnya Terus Jalan

Ini bagian yang paling membekas.

Kak Ahid bukan pemula di dunia usaha. Sebelum Potti Potato, sudah banyak bisnis yang dia coba. Tidak semuanya berhasil. Dan ketika aku tanya apakah pernah ingin menyerah, dia jawab tanpa ragu:

“Pernah lah kalau itu. Tiap hari kadang memikirkannya. Akhirnya sudah terbiasa gagal — jadi ga ada hal lain yang kita kejar selain sukses, ga tuh?!”

Aku mengangguk. Dan sepakat.

Ada sesuatu yang berbeda dari orang yang sudah cukup sering gagal — mereka tidak lagi bicara tentang kegagalan dengan nada panik atau malu. Mereka bicara tentangnya seperti cuaca: ada, sudah biasa, dan tidak menghalangi langkah berikutnya.

Kak Ahid juga sedang merintis sesuatu yang baru di luar Potti Potato — sebuah artisan coklat bernama Dopamine Theory. Orang yang terus mencoba, bahkan ketika satu usaha sudah stabil, adalah orang yang mungkin memang tidak bisa berhenti bergerak.

Pelanggan yang Paling Dikenang

Dari sekian banyak momen selama 10 tahun menjalankan Potti Potato, ada satu yang paling Kak Ahid ingat.

Seorang pelanggan yang setiap hari datang membeli — dan selalu memesan menu yang sama. Bukan karena tidak ada pilihan lain, tapi karena memang itu yang dia suka. Sampai di hari terakhirnya merantau di Semarang, pelanggan itu datang dan bilang ke Kak Ahid:

Bahwa dia pasti akan merindukan kentang goreng ini.

Kalimat itu mungkin terdengar kecil. Tapi bagi siapa pun yang pernah membangun sesuatu dari nol, tau bahwa pelanggan yang merindukan masakanmu — itu bukan hal kecil sama sekali.

Visited: 8 Juni 2026 | Rating pribadi: kentang yang digoreng dengan serius, dan pemilik yang bicara jujur

Bisnis Dari Dapur

Stories worth contemplating. Kumpulan cerita,refleksi, dan perjalanan para pelaku usaha kuliner Indonesia.

Email

Telepon

info.bisnisdaridapur@gmail.com

+628817618414

© 2025. All rights reserved.