Serasa Catering: Masakan Rumahan yang Lahir dari Proses Menyembuhkan Diri
Beberapa usaha lahir dari mimpi besar. Serasa Catering lahir dari proses menyembuhkan diri. Sebuah cerita tentang kehilangan, harapan, dan alasan untuk kembali berdiri melalui dapur yang sederhana.
CERITA USAHA
Joy Frysdeskia
6/19/20263 min baca
Bukan Cerita Tentang Masakan Rumahan
Aku datang ke Serasa Catering dengan pikiran bahwa ini akan menjadi cerita tentang masakan rumahan.
Ternyata bukan.
Bagiku, Serasa adalah cerita tentang bagaimana seseorang bisa menemukan jalan pulang setelah kehilangan.
Kadang kita mengira sebuah usaha lahir dari mimpi besar, rencana yang matang, atau ambisi yang kuat. Tapi setelah mendengar cerita ini, aku sadar bahwa beberapa usaha justru lahir dari proses menyembuhkan diri.
Mungkin itu sebabnya makanan di Serasa terasa seperti masakan rumah. Karena sebelum menjadi usaha, ia lebih dulu menjadi tempat bagi seseorang untuk kembali berdiri.
Dan mungkin, harapan memang sering datang dengan cara yang tidak kita duga. Kadang ia datang dalam bentuk sepiring makanan yang dimasak dengan penuh kasih.
Hari itu cerah. Udaranya menyenangkan. Dan dari depan rumah, sebelum pintu sempat dibuka, sudah tercium wangi masakan yang langsung bikin penasaran.
Sebenarnya apa yang sedang dimasak di sini?
Itu pertanyaan pertamaku waktu mengunjungi Serasa Catering — usaha yang aku temukan lewat sosial media, dan ternyata jauh lebih dari sekadar nama di feed.
Masakan Rumahan, untuk Kamu yang Tidak Sempat Masak
Sesuai namanya, Serasa hanya melayani by order. Bukan resto, bukan warung — murni catering rumahan dengan porsi yang pas untuk 1-3 orang, tergantung cara makannya. Kalau dipadukan dengan nasi, lauknya bisa cukup untuk seharian.
Konsepnya sederhana tapi tepat sasaran: untuk siapa saja yang tidak punya waktu — atau tidak punya kemampuan — untuk masak sendiri di rumah.
Aku pesan Lauk Cumi Hitam, Bihun/Soun Goreng, dan Acar Kuning.
Soal rasa? Tidak usah ditanya. Aku sampai nambah nasi. Bumbunya berani, masakannya sederhana tapi nglawuhi — istilah yang paling pas untuk menggambarkan makanan yang bikin kamu pengen makan lebih banyak nasi cuma karena lauknya benar-benar nendang.
Dan sebagai orang yang tidak bisa masak sama sekali — aku ini target market yang sangat ideal. Hahaha.
Di Balik Wangi Masakan, Ada Cerita yang Tidak Aku Duga
Aku pikir aku akan pulang dengan cerita soal resep dan bumbu. Ternyata ada sesuatu yang jauh lebih dalam dari itu.
Pemilik Serasa Catering pernah melewati masa yang sangat berat dalam hidupnya. Beliau sempat kehilangan sesuatu yang paling dinanti kehadirannya — seorang anak. Hidup berkata lain. Yang paling disayang, diambil.
Beliau terpuruk. Sejadi-jadinya.
Sampai akhirnya, di titik tergelap itu, beliau disarankan untuk melakukan sesuatu yang disukai. Untuk mencari kembali hal yang bisa membuatnya merasa hidup.
Dan salah satu hal itu adalah memasak.
Sebuah Postingan Iseng, dan Harapan yang Kembali
Iseng-iseng, beliau membuka open PO di Threads. Tidak ada ekspektasi besar. Hanya mencoba.
Ternyata berbuah manis. Orderan mulai berdatangan, dan dari situ — pelan-pelan — beliau menemukan sesuatu yang teralihkan dari kesedihannya. Bukan untuk lupa. Tapi untuk punya alasan bangun pagi, alasan menyalakan kompor, alasan terus bergerak.
Dari situ, muncul kesadaran bahwa masih ada harapan untuk melanjutkan hidup. Masih ada keluarga yang harus disayangi, dirawat, diberi makan.
Hobi yang Muncul dari Tempat yang Tidak Terduga
Yang menarik, menurut ibunya yang ikut membantu memasak di dapur, ini hobi yang sama sekali baru:
“Dulu dia ga pernah tuh masak, sebagai ibunya tidak pernah melihat dia punya hobi itu,”
katanya sambil tertawa.
Kadang bakat memang muncul di waktu yang tidak terduga. Bukan karena diasah sejak kecil, tapi karena dibutuhkan di satu titik tertentu dalam hidup.
Tapi mungkin juga bukan sepenuhnya baru. Pemilik Serasa sendiri menimpali sambil tertawa bersama:
“Dulu nenekku yang suka masak. Mungkin menurun ya..”
Ada sesuatu yang indah dari kalimat itu. Seolah-olah kemampuan itu sudah ada, mengalir diam-diam, menunggu waktu yang tepat untuk muncul ke permukaan.
Pesan untuk Ibu-Ibu di Luar Sana
Sebelum aku pulang, pemilik Serasa Catering menitipkan satu pesan — bukan untukku saja, tapi untuk siapa pun yang mungkin sedang berada di titik yang sama seperti beliau dulu:
“Untuk ibu-ibu di luar sana yang memiliki trauma ataupun hal yang tidak menyenangkan di hidup ini, jangan menyerah. Lakukan apa yang disukai. Upayakan untuk menjadi berdaya ekonomi walaupun dari dirumah. Semisal hari ini belum diberikan rejeki uang yang cukup, jangan menyerah, berikan diri afirmasi positif. Kapanpun rejeki akan dibukakan oleh Allah dari pintu manapun.”
Aku diam sebentar mendengarnya. Bukan kalimat yang dihafal atau dipersiapkan — tapi kalimat yang keluar dari seseorang yang benar-benar pernah ada di titik paling bawah, dan tau persis rasanya butuh seseorang untuk bilang: kamu tidak sendirian, dan masih ada jalan.